Video Kerusuhan Thailand

Ini Dia berita dan Video Kerusuhan Thailand dimana Demonstrasi yang berakhir rusuh di Thailand dalam sepekan terakhir terus memakan korban jiwa.



cuplikan-cuplikan video kerusuhan yang terjadi Thailand


Tentara Thailand menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan demonstran anti pemerintah yang telah melumpuhkan kota Bangkok selama beberapa pekan terakhir. Namun, para pendemo melakukan aksi pembalasan dengan bom molotov, granat dan senjata tajam. Akibatnya bentrokanpun pecah dan mengakibatkan 21 orang tewas di lokasi kejadian.


Seperti dilansir Reuters, Minggu (11/4), kejadian ini merupakan aksi kekerasan terbesar dalam 18 tahun terakhir pemerintahan Thailand. Lebih dari 800 orang, termasuk 64 tentara dan polisi juga terluka. “21 Orang tewas, termasuk 5 tentara,” tutur pejabat kesehatan setempat.


Walau telah menelan korban jiwa, demonstran anti pemerintah berirkrar tetap melanjutkan aksi mereka. Pemimpin massa “Kaos Merah,” Natthawut Saikua mengatakan, pengikutnya akan tetap menduduki pesimpangan Ratchaprasong dan Phan Fa Bridge sampai PM Abhisit membubarkan parlemen dan menyelenggarakan pemilu.


“Kami menuntut Abhisit segera mundur,” demikian tegas Natthawut seraya menambahkan bahwa “Kaos Merah” akan menggelar acara berkabung bagi para korban tewas di Monumen Demokrasi dan menyebut bahwa para korban tewas “tidak mati dalam kesia-siaan.” Selain menuntut mundur, pemimpin “Kaos Merah” Veera Musikhapong juga meminta PM Abhisit agar keluar meninggalkan Thailand.

Pemimpin kelompok “Kaos Merah” mengatakan, mereka akan menggelar aksi demo di berbagai lokasi berbeda di kota Bangkok pada hari ini (Senin.red) untuk memberikan penghormatan bagi korban tewas dari kelompok “Kaos Merah.”


Menurut data terakhir yang diterima dari rumah sakit Wachira Hospital, sebanyak 21 orang tewas dalam bentrokan pendemo dengan aparat keamanan Thailand, Minggu (11/4). Lima belas dari korban tewas adalah warga sipil, termasuk seorang juru kamera Reuters yang warga Jepang dan lima tentara.

Operasi pembersihan demonstran dari Phan Fa Bridge dimulai dari pukul 1 siang waktu setempat. Pasukan keamanan kemudian menghentikan operasi pada pukul 9:15 malam setelah bentrokan dipersimpangan Khok Wua menimbulkan banyak korban tewas dan luka-luka.


Juru bicara pemerintah Panithan Wattanayakorn mengatakan bahwa pasukan keamanan tidak melepaskan tembakan senjata api ke arah demonstran. Hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa granat dan amunisi yang digunakan dalam bentrokan bukanlah perlengkapan standar militer. Panithan juga menambahkan bahwa sejumlah gas air mata yang ditembakkan ke arah demonstran bukanlah yang biasa dipakai pasukan keamanan dan menegaskan bahwa pasukan keamanan tidak dilengkapi dengan granat tangan dan senjata mesin ketika membubarkan aksi massa “Kaos Merah.”


PM Abhisit Siap Berdialog dengan Demonstran


Situasi Thailand kian memanas. Korban tewas bentrokan antara tentara Thailand dengan demonstran “Kaos Merah” terus meningkat. PM Abhisit Vejjajiva menyatakan keprihatinannya atas korban tewas yang terus berjatuhan.

Lewat siaran televisi lokal, Abhisit menyatakan kesedihannya atas korban tewas yang terus berjatuhan. Dia juga menyatakan bersedia berdialog dengan demonstran. Akan tetapi, dia tidak setuju dengan permintaan tidak masuk akal dari demonstran yang menuntut dia mundur. “Saya dan pemerintahan saya akan terus melanjutkan pekerjaan kami guna menyelesaikan permasalahan ini,” kata dia dalam sebuah tayangan televisi yang disiarkan ke seluruh negeri.

Abhisit menolak seruan dari kelompok “Baju Merah” untuk mengundurkan diri dan menyelenggarakan pemilihan umum segera. “Sekarang militer telah menghentikan operasi, sedangkan para pelaku unjuk rasa telah mundur ke markas unjuk rasa,” katanya.


Abhisit menambahkan, pemerintah sudah sangat sabar dalam menghadapi demonstran yang bersikeras meningkatkan tekanan yang memaksa pemerintah. “Ini belum berakhir. Saya yakin jika kita tetap setia pada kebenaran, kami akan menang.” ujar Abhisit seperti dilansir Bangkok Post, Minggu (11/4).

Pendukung Thaksin Minta Raja Turun Tangan

Para pendukung mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra yang tergabung dalam kelompok “Kaos Merah” meminta raja Thailand agar turun tangan menyelesaikan krisis politik berdarah yang mendera negara itu. Intervensi raja itu adalah cara untuk “menghindari jatuhnya lebih banyak korban”, kata Pemimpin Kelompok Baju Merah, Jatuporn Prompan di Bangkok, Minggu dinihari.

“Apakah ada yang memberitahu raja bahwa anak-anaknya dibunuh di tengah jalan tanpa keadilan. Apakah ada orang yang dekat dengan beliau memberitahukan bahwa terjadi pertempuran senjata,” katanya.


Kendati tidak memiliki peran politik resmi, Raja Bhumibol Adulyadej dianggap sebagai sosok pemersatu rakyat Thailand. Dalam kerusuhan 1992 misalnya, Raja Bhumibol “menghukum” para pemimpin militer dan pengunjuk rasa. Langkahnya ini berhasil meredakan insiden kekerasan.

Raja Bhumibol yang dianggap banyak rakyatnya merupakan sosok setengah dewa dan pemimpin monarki terlama di dunia ini dirawat di rumah sakit sejak September 2009.


Dalam perkembangan lain pasca-bentrokan, seorang juru bicara militer Thailand menuding para demonstran antipemerintah menahan lima tentara. “Lima tentara ditahan para pengunjuk rasa dari kelompok Baju Merah,” kata Kolonel Sunsern Kaewkumnerd.


Bentrokan dan aksi saling serang antara aparat keamanan dan para demonstran pro-mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra yang pecah di pusat kota Bangkok itu menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai ratusan orang lainnya. Di antara para korban tewas dalam insiden terburuk dalam 18 tahun terakhir itu adalah juru kamera Reuters, Hiro Muramoto. Warga Jepang yang bekerja untuk kantor berita Reuters itu tertembak di bagian dadanya. Direktur RS Klang Dr.Pichaya Nakwatchara mengatakan, Muramoto sudah tak bernyawa saat tiba di rumah sakit.


Kemlu: Kondisi WNI di Thailand Masih Aman


Thailand dilanda kerusuhan. 18 Orang meninggal akibat aksi itu. Meski demikian kondisi warga negara Indonesia (WNI) di negeri Gajah Putih itu masih aman. “Warga negara kita tidak ada masalah. Kita melakukan monitor terus dan mengimbau agar mereka menjauhi lokasi konsentrasi massa,” kata juru bicara Kementrian Luar Negeri (Kemlu), Teuku Faizasyah saat dihubungi detikcom, Minggu (11/4).

Kemlu berharap WNI mematuhi anjuran yang dikeluarkan, sehingga tidak ada warga Indonesia yang mengalami atau ikut menjadi korban. “Kita tentu sangat serius memperhatikan nasib warga negara kita. Memang aksi massa itu hanya terjadi pada titik-titik tertentu saja,” tutup Faizasyah. Informasi terakhir korban tewas bentrokan antara tentara dengan massa Red Shirts, pendukung mantan PM Thaksin, meningkat menjadi 18 orang. Selain itu 800 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Hal ini tercatat sebagai kekerasan politik terburuk dalam 18 tahun terakhir. (detikcom/Bangkokpost/AFP/LBN/g)

0 comments:

Post a Comment